Logo
  • Beranda
  • Hasil Kelitbangan
  • Krenova
  • Inovasi Pemda
  • Informasi
    • Berita
    • Publikasi

STUDI ANALISIS DAMPAK INTRUSI AIR LAUT

  • 2017
  • Lingkungan Hidup
  • BAPPEDA

Definisi kawasan pesisir dari pendekatan ekologis adalah daerah pertemuan darat dan laut, dengan batas ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh sifat laut seperti angin laut, pasang surut dan intrusi air laut; sedangkan batas ke arah laut mencakup bagian perairan pantai sampai batas terluar dari paparan benua yang masih dipengaruhi oleh proses alamiah yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar serta proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia, misalnya penggundulan hutan, pencemaran industri/domestik, limbah tambak, atau penangkapan ikan.Secara geologi, batuan penyusun dataran umumnya berupa endapan aluvial yang terdiri dari lempung, pasir dan kerikil hasil dari pengangkutan dan erosi batuan di bagian hulu sungai. Umumnya batuan di dataran bersifat kurang kompak, sehingga potensi airtanahnya cukup baik. Akuifer di dataran pantai yang baik umumnya berupa akuifer tertekan, tetapi akuifer bebas pun dapat menjadi sumber air tanah yang baik terutama pada daerah-daerah pematang pantai/gosong pantai. Permasalahan pokok pada kawasan pantai adalah keragaman sistem akuifer, posisi dan penyebaran penyusupan/intrusi air laut baik secara alami maupun secara buatan yang diakibatkan adanya pengambilan airtanah untuk kebutuhan domestik, nelayan, dan industri.Penyebab intrusi ini sebagian besar disebabkan oleh pemanfaatan air tanah yang berlebihan sehingga terjadi penurunan muka air bawah tanah tawar dan perembesan atau menyusupnya air bawah tanah laut ke arah daratan.Sementara Intrusi air laut yang disebabkan oleh kenaikan permukaan air laut akibat fenomena alam seperti pengaruh eustatik, pembentukan cekungan geologis yang lebar dan dangkal dan El Nino Southern Ocillation (ENSO) masih belum memberikan dampak yang serius di Indonesia dibanding dengan intrusi laut karena pemanfaatan air bawah tanah yang berlebihan.Intrusi air laut juga disebabkan oleh semakin banyaknya bangunanbangunan yang tidak terkontrol sesuai pola ruang, sehingga ruang terbuka hijau yang diharapkan dapat menampung air hujan menjadi air bawah tanah semakin minim. Tidak ada pemulihan air tanah karena banyaknya bangunan menutup permukaan tanah. Sehingga air hujan yang harusnya menyimpan air menjadi tumpah semuanya ke sungai dan bermuara ke laut. Di samping itu, intrusi air laut terjadi karena eksploitasi air tanah yang berlebihan.Intrusi air laut ke daratan masih belum mendapat perhatian serius baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Walaupun dampaknya tidak dirasakan secara langsung seperti pencemaran udara dan gangguan suara, namun untuk jangka panjang, rembesan air laut ke daratan akan menimbulkan kerugian yang sangat besar, baik dari segi lingkungan, kesehatan, maupun ekonomi. Dampak intrusi akan muncul secara berkala dan dalam jangka waktu yang lama tanpa ada upaya pencegahan akan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi masyarakat.Intrusi air laut menjadi permasalahan daerah pesisir pantai termasuk Kota Tegal. Beberapa dampak adanya intrusi air laut telah dirasakan oleh masyarakat terutama yang tinggal di sepanjang pesisir pantai. Banyak pemukiman peduduk yang tidak bisa mendapatkan sumber air yang berkualitas untuk dikonsumsi karena air sudah terasa payau bahkan asin.Sehingga untuk memenuhi kebutuhan air untuk minum dan memasak arus membeli dari perusahaan air minum daerah secara langsung maupun lewat penjual air eceran. Dampak intrusi air laut tidak hanya dialami oleh daerah pemukiman tetapi juga mengimbas ke area pertanian dan tambak. Beberapa lahan persawahan sudah tidak produktif karena air irigasi yang tercampur dengan air asin dan beberapa tambak di pesisir pantai yang terkena aliran air asin dari laut karena elevasi yang rendah.Secara geografis, Kota Tegal terletak di antara 109008’ – 109010’ Bujur Timur dan 6050’ – 6053’ Lintang Selatan. Kota Tegal berada di wilayah pantai utara pulau jawa dengan luas wilayah 39,68 km2 dan bentang terjauh utara ke selatan 6,7 km serta barat ke timur 9,7 km.Wilayah administrasi Kota Tegal berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara, Kabupaten Tegal di sebelah timur dan selatan serta Kabupaten Brebes di sebelah barat. Wilayah administrasi Kota Tegal terbagi menjadi 4 kecamatan dan 27 kelurahan. Kelurahan yang terletak langsung berbatasan dengan pantai yaitu Kelurahan Mintaragen, Kelurahan Tegalsari dan Kelurahan Muarareja. Dilihat dari kondisi topografi, Kota Tegal terbagi menjadi 2 bagian yaitu daerah pantai dan daerah dataran rendah. Sebelah utara merupakan daerah pantai yang relatif datar dan di sebelah selatan merupakan daerah dataran rendah. Rata-rata elevasi ketinggian di wilayah Kota Tegal antara 0 – 7 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan sungai rata-rata 0 – 2 meter. Bentuk topografi Kota Tegal dipengaruhi oleh tiga buah sungai besar yaitu sungai Ketiwon, sungai Kemiri dan sungai Gangsa, oleh karena itu dijumpai “flood plain” (endapan di sekitar muara sungai besar) sebagai berikut :1. Dengan elevasi maksimum + 3.00 m terdapat endapan flood plain sungai Gangsa yang membentuk wilayah di Kecamatan Margadana. Karena rendahnya elevasi tanah, terutama di sebelah utara jalan provinsi, maka lahan yang dipergunakan sebagai kawasan tambak, mudah terkena aliran air asin. Tanah di sebelah selatan jalan negara relatif lebih tinggi dan digunakan sebagai kawasan permukiman, namun elevasinya tetap berada di bawah tanggul kali Gangsa.2. Di bagian timur terdapat lokasi yang elevasinya relatif lebih tinggi (maksimum +3.00 m), karena itu pada belahan timur Kota Tegal ini banyak kawasan permukiman dengan elevasi rendah di sebelah utara (dekat pantai utara Jawa).3. Arah kemiringan topografi adalah dari selatan ke utara, elevasi muka tanah di kaki tanggul dengan sungai tersebut berkisar antara 1 – 2 m. Keadaan tanah yang datar ini menyebabkan Kota Tegal berdiri di atas daerah endapan yang berasal dari pegunungan di sebelah selatan Kota.Kondisi topografis Kota Tegal yang demikian menyebabkan Kota Tegal terkena resiko kerusakan sumber daya air tanah oleh adanya intrusi air laut tersebut. Intrusi air laut menyebabkan berubahnya karakteristik air tanah yang umumnya tawar menjadi asin.Mendasari fenomena intrusi air laut yang dialami oleh daerah-daerah di pesisir pantai termasuk Kota Tegal yang dampaknya telah dirasakan masyarakat perlu mendapatkan perhatian yang serius dari seluruh pihak baik masyarakat, pengusaha maupun pemerintah serta stakeholder lainnya. Oleh karena itu Pemerintah Kota Tegal akan melakukan study analisis dampak intrusi air laut di Kota Tegal dan diharapkan bisa menjadi acuan bagi semua pihak untuk lebih efektif dalam menangani dampak intrusi air laut dan upaya pencegahannya agar intrusi air laut tidak menimbulkan dampak yang lebih luas.

Bidang

  • Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (36)
  • Sosial (2)
  • Perindustrian (7)
  • Kebudayaan (2)
  • Perdagangan (6)
  • Administrasi Pemerintahan (6)
  • Komunikasi dan Informatika (1)
  • Kepemudaan dan Olah Raga (6)
  • Pertanian (2)
  • Kesehatan (2)
  • Pariwisata (2)
  • Penelitian dan Pengembangan (3)
  • Perhubungan (2)
  • Pengawasan (1)
  • Lingkungan Hidup (36)
  • Kelautan dan Perikanan (2)
  • Penanaman Modal (1)
  • Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (23)
  • Keuangan (4)
  • Pendidikan (5)
  • Tenaga Kerja (1)
  • Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (2)
  • Ketentraman dan Ketertiban Umum serta Perlindungan Masyarakat (1)
  • Perencanaan (11)

Form Unduh Dokumen

BAPPERIDA

Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah
Kota Tegal

  • Jl. Ki Gede Sebayu no. 3 Kota Tegal
  • bappperida@tegalkota.go.id

Menu

  • Hasil Kelitbangan
  • Krenova
  • Inovasi Pemda
  • Berita
  • Dokumen Perencanaan

Tautan Terkait

  • BAPPERIDA
  • Pemkot Tegal
  • Pindah Jateng
  • BRIN
  • Database Penelitian Daerah Kota Tegal
  • BAPPEDA Jateng

Jam Operasional

  • Senin - Kamis :
    07.30 - 16.30
  • Jumat :
    07.30 - 14.30
  • Sabtu & Minggu :
    Tutup

© Copyright 2021. All Rights Reserved by BAPPERIDA

Shape