KinerjaTim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tegal sudah terlihat sejak dibentuk tahun 2011. Sejak tahun 2011 sampai dengan 2014, inflasi Kota Tegal relatif berada pada tingkat yang paling rendah dibandingkan 6 (enam) kota lainnya di Jawa Tengah. Akan tetapi, inflasi Kota Tegal 2 (dua) tahun terakhir (2015 dan 2016) relatif lebih tinggi dibandingkan 6 (enam) kota lainnya. Bahkan, pada tahun 2015 dan 2016 inflasi Kota Tegal lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi Provinsi Jawa Tengah. Kondisi inflasi dua tahun terakhir tersebut harus disikapi dengan langkah konkret Tim Pengendalian Inflasi (TPID) Kota Tegal. Pengendalian inflasi di Kota Tegal dihadapkan pada beberapa kondisi. Luas wilayah Kota Tegal sebesar 3.958 km 2 sebagian besar digunakan sebagai lahan bukan sawah yaitu sebesar 3.224,70 km 2 (Badan Pusat Statistik, 2015). Selain itu, Kota Tegal terletak di persimpangan jalur perlintasan arah Jakarta, Surabaya dan Purwokerto. Dengan melihat kondisi tersebut maka dalam konteks penyediaan komoditas kebutuhan pokok masyarakat, Kota Tegal relatif bukan bukan daerah utama penghasil komoditastetapi menjadi pusat tujuan distribusi komoditas bagi daerah penghasil serta menjadi tempat transaksi perdagangan komoditas bagi daerah-daerah sekitar. Oleh karena itu, harga-harga komoditas perdagangan di Kota Tegal sangat dipengaruhi oleh tersedianya komoditas dan kelancaran distribusi. Kegiatan kajian faktor-faktor pengaruh inflasi ini untuk mengkaji lebih dalam faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi di Kota Tegal sehingga bisa memberikan informasi yang penting bagi TPID dalam menganalisa dinamika perekonomian yang sedang berkembang dan lebih cepat mengambil langkah-langkah strategis dan efektif. Kajian ini diharapkan bisa menghasilkan kajian yang matang karena memadukan antara teoritis dan praktis, sehingga dapat disusun rekomendasi kebijakan dan roadmap pengendalian inflasi Kota Tegal yang komprehensif.